Analisis Implikasi Pengoperasian Trans Jateng Terhadap Biaya Transportasi Bekerja Buruh Industri (Studi Kasus: Koridor I Kedungsepur)

Autor(s): Basyier Gemaning Insan, Okto Risdianto Manullang, Adhi Setyanto
DOI: 10.25104/jptd.v22i1.1600

Abstract

Urban sprawl memicu permasalahan semakin tingginya biaya transportasi akibat keterbatasan layanan angkutan umum sehingga menyababkan ketergantungan terhadap penggunaan kendaraan pribadi. Fenomena ini telah muncul di berbagai Negara Barat dan sebagian besar Asia, tetapi di Indonesia fenomena ini bekerja secara natural dan Pemerintah memberikan solusi melalui pembangunan koridor transportasi baru termasuk pemberian subsidi transportasi untuk meringankan biaya perjalanan. Sebagai kasus studi digunakan metropolitan Kedungsepur yang menunjukkan bahwa dinamika ini unik karena terjadi pada kota-kota berukuran sedang dan menjadi semakin kompleks seiring dengan urbanisasi regional pada hiterlandnya. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan peran kebijakan pemerintah dalam pembangunan jaringan transportasi Trans-Jateng koridor I dalam mereduksi biaya transportasi para pekerja industri. Hasilnya, buruh industri di area terurban metropolitan Semarang rata-rata menempuh perjalanan sejauh 44-54 km setiap harinya. Intervensi pemerintah dalam pembangunan Trans Jateng koridor I telah melibatkan subsidi yang mampu mereduksi biaya perjalanan buruh industri dari Rp306.081,10-367.297,32 menjadi Rp142.796,03-171.355,24 setiap bulannya. Diskusi ini memberikan kontribusi peran kebijakan sektor transportasi yang mendorong naturalisasi biaya perjalanan dalam studi transportasi perkotaan.

Keywords

biaya transportasi; buruh industri; Trans Jateng; subsidi

Full Text:

PDF

References

Badan Pusat Statistik. 2019. Kabupaten Semarang Dalam Angka Tahun 2019. Semarang: Badan Pusat Statistik.

Basuki, I., & Siswadi. 2008. Biaya Kemacetan Ruas Jalan Kota Yogyakarta. Jurnal Teknik Sipil, Vol. 9(No. 1), 71-80.

Churchill, S. A., & Smyth, R. 2019. Transport poverty and subjective wellbeing. Transportation Research Part A(124), 40–54.

Creswell, J. W. 2012. Educational Research: Planning, Conducting and Evaluating Quantitative and Qualitative Research. Upper Saddle River.

Guzman, L. A., & Oviedo, D. 2018. Accessibility, affordability and equity: Assessing ‘pro-poor’ public transport subsidies in Bogotá. Transport Policy, 68, 37–51.

Herwangi et al, Y. 2017. Transport Affordability and Motorcycle Ownership in Low-income Households: Case of Yogyakarta Urbanised Area, Indonesia. Proceedings of the Eastern Asia Society for Transportation Studies, Vol.11.

Jin, Z., Schmöcker, J.-D., & Maadi, S. 2019. On the interaction between public transport demand, service quality and fare for social welfare optimisation. Research in Transportation Economics.

Litman, T. 1995, April. Land use impact costs of transportation. World Transport Policy and Practice.

Margono. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Pemerintah Republik Indonesia. 2009. Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Jakarta.

Soja, E. W. 2011. Regional Urbanization and The End of The Metropolis Era. The 5th International Conference of the International Forum on Urbanism (IFoU).

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R &D. Bandung: Alfabeta .

Tamin, O. 2003. Perencanaan dan Pemodelan Transportasi. Bandung: Penerbit ITB Bandung.

The World Bank. 2002. Cities on the Move. Washington DC.: The World Bank.

Tjiptoherijanto, P. 2003. Kebijakan Upah : Tantangan Di Tengah Suasana Krisis Ekonomi. Kelola, VIII(20).

Willoughby, C. 2002. Infrastructure and Pro-Poor Growth: Implications of Recent Research. 35 pp.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.